Buat saya pribadi, saya tak pernah ingat kapan pertama kali saya mengucapkan kalimat Syahadat. Karena alhamdulillah saya terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang beragama Islam. Saya belajar shalat, belajar puasa pertama kali, bersama keluarga saya. Saya sangat bersyukur dikaruniai hal seperti itu. Setahu saya, Islam itu ya ISLAM, seperti Islam Anda mungkin, juga mungkin Islam teman-teman saya, famili Anda, atau Islamnya para Kyai yang sering khotbah di televisi itu. Guru TPA saya sewaktu SD pernah bercerita, ISLAM itu adalah Isya, Subuh, Lohor, Ashar, Maghrib.. Itu yang bisa saya ingat. Semua Islam pasti kenal dengan 5 hal itu, saya pikir.
Tetangga-tetangga saya juga konon beragama sama dengan saya. Meski di tembok rumah mereka ada yang terpasang lukisan Kyai Ahmad Dahlan, ada yang terpasang foto konon bernama Kyai Hasyim Ashari, tetapi mereka semua bilang bahwa nabi yang mereka ikuti adalah Nabi Muhammad SAW. Sama, saya pikir.
Beranjak memasuki bangku universitas, saya tetap Insya Allah Islam. Sama dengan Islam saya sewaktu SD. Hanya saja, melalui teman-teman saya waktu itu, saya mulai dikenalkan oleh mereka Islam yang katanya paling benar. Saya ditunjukkan Islam yang katanya juga paling salah. Islam yang munafik, Islam yang kafir, juga Islam yang palsu karena sudah tidak murni lagi. Mereka memperkenalkan kepada saya dengan nama depan yang sama, ISLAM.
Saya memang tak pernah menyentuh pendidikan di pesantren manapun, kecuali sekilas di pesantren dunia maya dan pesantren kilat sewaktu sekolah dulu. Teman saya yang pernah dikirim oleh orang tuanya untuk belajar mendalami agama seperti yang saya anut, satu kali pernah bercerita betapa hebatnya dia dalam waktu beberapa bulan, sudah hafal luar kepala beberapa Juz Al Quran. Betapa hebatnya pesantren tempat dia mendalami agamanya. Teman saya yang lain, bercerita bahwa di pesantrennya, para santri selain dibekali ilmu agama juga dijamin lancar cas cis cus berbahasa Inggris dan tentu saja bahasa Arab. Betapa hebatnya pesantren itu. Semua mempelajari hal yang sama, Ilmu Islam, kalau saya tidak salah.
Sekali waktu Alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi tanah suci. Kenalan saya yang konon sedang nyantren di mana katanya agama Islam diturunkan tak jauh dari tempatnya, bercerita kepada saya. Bahwa kalau ada orang yang ingin belajar Islam sesuai tuntunan Rasulullah, tak salah bila belajar di kota tempatnya belajar. Karena menurutnya, ajaran Islam di situ masih murni dan tidak dicampur adukkan dengan ilmu-ilmu baru yang tidak jelas sumber hukumnya. Menurut kenalan saya yang lain, kebetulan dia juga sedang nyantren di negara tak jauh dari situ juga, tidak ada salahnya menggunakan referensi ilmu selain dari ilmu Islam, sepanjang itu berguna untuk kemaslahatan umat.
Saya memang tak pernah bisa menjawab kalau ada teman saya yang bertanya..
Kenapa harus Salafi? Kenapa harus Wahabi?
Kenapa Syiah? Kenapa Sunni?
Apa Islam kamu? Apa mahzab kamu?
Kenapa harus moderat? Kenapa harus radikal? Kenapa harus liberal?
Partai apa Islam kamu? Ideologi Islam apa partai kamu?
Entahlah..
Sementara umat lain terus bersatu membangun demi kemajuan para penganutnya..
Sementara umat Islam saling menjatuhkan antara kaum Islam yang satu dengan yang lain..
Sementara umat lain sibuk berbuat kebaikan, berkegiatan sosial demi umat mereka..
Sementara umat Islam saling teror, saling menyalahkan, saling berebut pengaruh satu sama lain..
Sampai Kapan?
